Tampilkan postingan dengan label Khonghucu Jambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khonghucu Jambi. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Mei 2017

占碑狮仔殿孔教庆祝伏羲帝仙圣诞千秋


 
 
 
 
 
占碑华人庆祝伏羲帝仙圣诞千秋,2017521日,在占碑省占碑埠哥尼区狮仔殿隆重举行,庆祝伏羲帝仙圣诞千秋法会.筹委会主席郑建平先生邀请来自中国林泽宗道士主持法会,场面非要热闹,有来自雅加达前名誉孔教会席黄耀强先生及随行人员暨占碑省孔教会主席黄春回先生及执事人员,还有千多名虔诚信徒参与法会。
 
  伏羲是华人的根之所在,也可说伏羲是華人的祖仙。以伏羲时代为标帜,中华民族从蒙昧跨入了文明的门槛。我们尊崇伏羲,敬重伏羲,时常为伏羲坚韧不拔的奋斗精神所感召,所激励。

  狮仔殿负责人表示,伏羲帝仙在孔教里是受广大信徒的遵从和祈拜。+伏羲画八卦、结网罟、取火种、兴嫁娶、造书契、创乐器,一系列的发明创造,犹如永不熄灭的明灯,照亮了中国几千年的历史。

  法会在林泽宗道士念咒诵唱后,众人祈拜后,祈祷国泰民安、六时吉祥,一帆风顺。随后,是由乩童为信徒开药方及护身符。本报记者明光报道/Romy

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20170523/318844.shtml

Senin, 02 Juni 2014

Fuxi Temple (Fuxi miao)

Fuxi Temple (Fuxi miao), also called Taihao gong, is located in the western part of Qincheng, on Fuxi lu. The temple is a Ming dynasty (1368-1644) construction that, despite renovations in the Qing dynasty (1644-1911), still retains its basic Ming format. Today the temple grounds are still covered by many beautiful cypresses, some up to a thousand years old, and is a nice half day outing.
The temple was competed in 1490 during the reign of the emperor Hongzhi, and covers a total area of 6,000 square meters. It was originally designed to commemorate Fuxi, a legendary ancestor and emperor of the Chinese people, and is the largest of this kind in China. Following the route from the front gate in the south to the back gate in the north, there are numerous archways, temples, terraces and a grand Main Hall. Within the Main Hall is a representative statue of a semi naked Fuxi.

Every year on January 15th (alleged birthday of the emperor) and May 13th (apparent birthday of China's first dragon) by the Chinese traditional calendar, grand sacrificial ceremonies are held, which draw throngs of Chinese and foreigners to its door.

http://www.chinatravelz.com/china/Gansu/Tianshui/fuximiao/index.asp

Minggu, 01 Juni 2014

9 Sen Ren Kawal Sejit Fu Xi (Hook Hie Te Shien)

JAMBI, ayojambi.com – Perayaan sejit Nenek Moyang Manusia di Tiongkok dirayakan oleh (foto) Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien. Perayaan Nenek Moyang Manusia yang bernama (foto) Fuxi “伏羲” di Tiongkok boleh dibilang paling ramai dikunjungi, bahkan para pejabat negara Tiongkok maupun masyarakat di Tiongkok dan warga Tionghoa dari manca dunia ikut ambil bagian dalam perayaan Fu Xi (24/5).
Di saat kita memasuki gerbang kelenteng Makin Sai Che Tien di kawasan Koni IV, sayup-sayup terdengar suara gendrang diiringi irama suling, suara pendeta sai kong yang tengah membaca So Bun (sejenis surat pemberitahuan) yang dibacakan oleh Tau Shie (Sai Kong) Lim Tek Chong yang sengaja datang dari Tiongkok (China).

Suasana dalam kelenteng, terlihat kilauan pancaran sinar dari lilin-lilin merah menambah keindahan kelenteng yang mayolitas berwarna merah, selain itu aroma wewangian dari gaharu/ hio yang dinyalakan umat Khonghucu.

Dihalaman depan dan samping kiri kanan kelenteng ratusan umat tengah menyaksikan atraksi barongsai dari perkumpulan Hok Liong Sai Jambi, turut menyemarakan acara hari ulang tahun sin ming “Hook Hie Te Shieng” yang biasa disebut Shien Kong, selain merayakan haur sin beng, ada juga ritual mempersembahkan sesajian kepada para pungawa dewa dan arwah-arwah gentayangan yang wafat secara tidak sempurna (Kho Kun).

Nampaknya perayaan sejit Hok Hie Tee Sien “Fuxi” “伏羲” tahun ini luar biasa, pasalnya dalam acara sejit belum pernah ada 9 khi tong/ tatung dirasuki roh sen ren (dewa), namun kali ini 9 khi tong, diantara khi tong yang kerasukan roh para dewa terdapat 3 orang wanita.

Dari pantauan di kelenteng sudah mulai dipadati oleh umat Konghucu sejak pukul 10.00. Ada sekitar 1.000 umat Khonghucu yang hadir, tidak hanya dari Kota Jambi, juga beberapa kabupaten di Provinsi Jambi. Pagi harinya, umat menumpukkan kertas sembahyang yang kemudian dibakar bersama-sama dengan teng lau yang dibuat oleh Liem Teek Cong Tau Shie. Ritual dimulai dengan melakukan sembahyang Tien (Tuhan red)  dihalaman depan pintu masuk kelenteng altar Tie Kong. Sembahyang berlangsung hingga satu jam dengan melantunkan doa-doa.

Ritual lalu dilanjutkan dengan sembahyang sin beng Hook Hie Te Shien yang digelar di dalam klenteng. Ini bertujuan untuk memohon doa serta mengundang beberapa sin beng untuk datang pada acara tersebut. Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan membakar kertas sembahyang yang telah disediakan. Setiap daerah prosesi ritualnya berbeda-beda namun tujuan tetap sama yaitu memohon pelindungan dari sang pencipta alam semesta (Tien) dan para sin beng maupun leluhur. (Romy) 
* www.ayojambi.com/

Fu Xi dan Awal Peradaban China

Menurut sejarah Tiongkok (China), dewa dari kebudayaan surga disampaikan langsung kepada orang-orang Tiongkok yang bernama Nu Wa. Yang paling terkenal dari dewa Fu Xi dan Shen Nong. Mereka dikirim ke bumi untuk mengajarkan orang-orang Cina keterampilan dasar dan pengetahuan dan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang alam.
Untuk sementara waktu, manusia hidup berdampingan dengan dewa dan China disebut "tanah yang ilahi."

Saat itu, orang Tiongkok (China) menjalani kehidupan sangat sederhana. Mereka mencari makanan ketika lapar dan dibuang tetap ketika puas. Fu Xi mengajarkan Cina kuno bagaimana membuat jaring untuk menangkap ikan. Dengan cara ini, orang-orang sangat meningkatkan produktivitas mereka. Fu Xi juga mengajar orang bagaimana untuk menjinakkan binatang, dan ini adalah asal ternak.

Selain itu, Fu Xi melembagakan perkawinan dalam masyarakat Cina. Sebelum Fu Xi datang ke bumi, orang kawin dengan kerabat dan anak-anak tinggal bersama ibu mereka dan tidak tahu ayah mereka. Fu Xi benar-benar mengubah kebiasaan kawin orang-orang China dan melembagakan sistem perkawinan dan etiket pernikahan.

Fu Xi juga menciptakan "Shu Qi," sebuah sistem ukiran pada kayu untuk menggantikan menjaga rekor sebelumnya melalui simpul ikatan. Dia juga menetapkan hukum bagi manusia dan batas-batas santai untuk gubernur dari berbagai daerah. Dia menunjuk pejabat yang bertanggung jawab atas administrasi publik dan pemerintahan.

Nu Wa, Pencipta Manusia
Fu Xi dianggap pencetus dari delapan trigram, yang memungkinkan orang China untuk memahami perubahan dalam dunia mereka dan di langit, dan pentingnya mematuhi kehendak Surga. Dalam hal ini, orang China datang untuk menyembah Surga dan alam dengan hormat tak terbatas, dan untuk memahami bahwa budaya mereka adalah hadiah dari para dewa dan manifestasi dari fitur tertentu dari kebudayaan Dewa.

Menurut tradisi, itu adalah Shen Nong yang mengajari awal Cina bagaimana membuat alat pertanian, bagaimana membuat gurun ditanami, dan bagaimana untuk menumbuhkan tanaman.

Dengan bantuan para dewa, kualitas hidup dari Cina kuno ditingkatkan. Mereka menjadi lebih mampu mengatasi dengan alam dan norma-norma bagi perilaku manusia. Dengan cara ini, orang Cina tidak berpengalaman dan jujur secara bertahap membuat cara hidup bagi dirinya dan masyarakat mereka memasuki tahap awal peradaban.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.theepochtimes.com/n2/china-news/fu-xi-and-the-origin-of-chinese-civilization-57536.html

Kelenteng Sai Che Tien Jambi Gelar Po Un (Kias)

JAMBI, ayojambi.com – Makin Klenteng Sai Che Tien yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Kelurahan Talang Jauh, Kecamatan Jetung, kota Jambi, yang dikenal dengan nama Dewa Hok Hie Te Sien atau Sien Kong, dewa tersebut juga dikenal sebagai nenek moyang manusia di China.
Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Lim Tek Ching taoshe dari Tirai Bambu, upacara Po Un hari perta dilakukan Rabu (5/2) siang, pukul 14.00 diikuti lebih dari dua puluh kepala keluarga (kk), para peserta  Po Un sebelumnya harus mendaftarkan identitas kepala keluarga (kk), tanggal kelahiran, jam kelahiran dan shio dan membawa pakaian dan beberapa sesajen, peserta Po Un wajib ikut prosesi upacara boleh diwakili oleh salah satu keluarganya.

Prosesi Po Un dimulai pukul 14.00 hingga pukul 17.00 dengan membaca nama, tanggal kelahiran, jam kelahiran dan shio yang bersangkutan dihadapan dewa Hok Hie Te Sien atau Sien Kong terus mengelilingi altar sang dewa.

Menurut penuturan Lim Tek Ching taoshe, bahwa manusia lahir, hidup dan meninggal merupakan takdir dari sang pencipta alam semesta, namun perjalanan seseorang maupun nasib seseorang tergantung dari perilaku kita sehari-hari, sedangkan prosesi Po Un dilaksanakan selama satu saja, besok Lim Tek Ching akan ke Palembang dengan acara yang sama dan tanggal 10 Februari 2014 baru kembali ke Jambi..

Selanjutnya ujar Lim Tek Ching taoshe, perjalanan seseorang di Tahun Kuda Kayu, ada bulan yang baik dan ada pula bulan yang kurang baik, maka kita mesti memohon kepada Yang Maha Esa serta memohon agar para dewa memberikan perlindungan kepada keluarga yang lakukan Po Un dengan memberikan berkah yang baik bagi keluarga yang bersangkutan. (Romy)
* www.ayojambi.com/